Tugas Akhir Seni Tari ISBI Bandung
11 Mei 2018,
Drupadi lahir setelah digodok dengan gejolak-gejolak semangat membereskan akhir perkuliahan yang sebetulnya masih betah dan gak mau kemana2.
Dimasak sampai matang diatas api yang dinyalakan hingga keling legam dengan nafas marah-marah pada Krisna.
Kok marah sama Krisna sih ? Jelas kali ini bukan Drupadi yang biasa. Wanita yang kali ini hadir jelas Drupadi yang ada di kiri kanan kalian yang kuat berani dan yang pasti pemberontak.
Bayangkan jika kamu jadi Drupadi ... !!
Baru lahir, dikutuk jadi cewe paling cantik di bumi tapi hidupnya menderita. Siapa yang ngutuk, AYAHNYA !!!! (Drupada).
Cabut dari keluarga (pengen nikah juga kan Doi), eh malah harus nikah ama lima pria yang katanya paling terhormat (padahal 1 laki terhormat juga sangat cukup untuk bahagia ~KARNA misalnya~ 😁😁😁).
Hidupnya selalu tiba-tiba. Diluar norma, tapi takdir. Lalu ?
Drupadi yang lahir pada hari Jumat itu ternyata lebih berangasan. Masa marah-marah sama Tuhan? Yakin marah-marah ? Toh jika diperjelas sebetulnya bukan marah-marah beneran, lebih ke mengadu. Loh kok mengadu? Mengadu kepada Krisna sang Dewa mempertanyakan mengapa (aku) ditakdirkan seperti itu dan sebuah perjuangan untuk menyelamatkan harga dirinya..
Dibilang pendendam, tentu saja. Namanya juga wanita. Harga diri, harga mati. Jika penelanjangan betul-betul terjadi, (aku) yakin perang Bharatayuda tidak akan menunggu waktu lama. Detik itu pun juga tempat kejadian penghinaan akan langsung BANJIR darah. Bukan hanya darah Dursasana tentunya, darah semua yang diam terpaku tanpa ada kesadaran. Tapi Krisna lebih bijak, (aku) harus bersabar. Terselamatkannya aku dari kebugilan, merupakan sebuah bukti bahwa aku wanita yang kuat dan terlindungi. Tak akan pernah ada siapapun yang bisa menghinaku sedikitpun.
Maka darah Dursasana harus tumpah, tidak boleh tidak. (Aku) yang meminta khusus kepada Krisna adegan tersebut harus ada didalam SKENARIO selanjutnya. Darah itu sangat penting, karena darah itu lah yang akan memberikan warna merah kepada kain sari putih yang kupakai sebagai tanda berkabung kepada diriku sendiri yang dihina bukan hanya oleh Dursasana, tapi seluruh umat.
Drupadi itu pejuang. Memperjuangkan dirinya agar tak ada lagi wanita yang dibiarkan terhina suatu hari nanti dengan semena-mena.
Sekali lagi (aku) katakan, AKU itu pejuang! Sepakat ??
Harus sepakat tentunya, karena...
Aku adalah Kamu.
Aku ada, selalu ada, terus ada, didalam urat, didalam nadi, didalam jiwa, dan didalam darah yang kamu sendiri tahu alirannya tak pernah berhenti didalam tubuhmu yang indah itu kecuali kamu mati.
Comments
Post a Comment